Selain di Mesir, Ternyata Nama Saya (Juga) Terkenal di Palestina dan Israel
Nama (Bugis : Sennu) adalah sebuah do’a dan
harapan (Sennuangeng). Orang Bugis mengatakan “Sennunnu’ Sennuangeng”.
Dan karena persoalan nama ini, saya terperanjat ketika sebuah teman
menunjukkan kitab, “Da’irat’l-Ma’arif al-Qarn’l-’Isyrin” ditulis oleh
seorang ulama bernama Muhammad Farid Wajdi, sebuah nama yang sama persis
dengan nama saya. Menurut Wikipedia, nama “Farid” adalah nama pribadi
arab maskulin (laki – laki) yang berarti “unik”, umumnya dipakai sebagai
nama laki – laki di Timur Tengah, Balkan, Asia Tenggara dan tempat –
tempat lain dengan populasi muslim besar. [lihat DISINI]
Beberapa pemilik nama Farid dengan berbagai nama yang bersambung dibelakangnya yang terkenal diantaranya ialah, Farid ad-Din Attar, an Iranian sufi poet, Farid Abboud, Lebanese Ambassador, Farid Talhaoui, a Moroccan football player, Farid Ghadry, a Syrian political activist, Farid Mansurov, an Azerbaijani wrestler, Farid Shawki, an Egyptian actor, Farid Stino, a Middle Eastern businessman, Farid Mukhametshin, a Tatarstani politician, Farid al-Atrash, a Syrian Egyptian singer, music composer, actor, Farid F. Abraham, a scientist, Sher Shah Suri, Farid Khan, a king, Farid Esack, South African anti-apartheid activist and Muslim scholar, Fareed Zakaria, American journalist and commentator, Baba (Guru) Farid, a Sufi saint, Khwaja Ghulam Farid, a Siraiki poet, Ibn al-Farid, an Arab poet, Fareed Lafta, Iraqi pilot and athlete, Fareed Majeed, Iraqi footballer, Donald Fareed, Iranian born American Christian tele-evangelist, Morad Fareed, Palestinian-American entrepreneur, Farid Kamil, Malaysian male model turned actor.
Untuk menunjukkan ciri kebugisan (sebagai orang
Bugis), dalam tulisan biasanya nama saya sambungkan dengan nama “family”
(nama kakek dan ayah) menjadi “M Farid W Makkulau”. Jika menulis
tentang Sejarah dan Budaya (local) Sulsel, saya senang menggunakan nama
ini, lebib familiar bagi lidah orang Bugis Makassar. Kadang pula saya
gunakan nama pena “Etta Adil” atau “Dg Patangnga”, ini sebenarnya nama
panggilan dalam keluarga, umum digunakan bagi orang Bugis Makassar yang
sudah berkeluarga dan punya anak, disebut sesuai “Areng Paddaengang-nya”
atau disandingkan dengan nama anaknya. [tentang ARENG baca DISINI]
Kembali ke soal nama dan “penamaan”. Saya menduga
pemberian nama sejak kecil, “Muhammad Farid Wajdi” merujuk kepada Syeikh
Muhammad Farid Wajdi, pengarang “Da’irat’l-Ma’arif al-Qarn’l-’Isyrin”
tadi. Dugaan saya ini, meskipun ayah yang “pembaca kitab gundul” namun
dalam koleksi kitab kuningnya saya tidak dapati kitab Muhammad Farid
Wajdi tersebut, yang ada hanya koleksi buku Muhammad Husain Haekal,
seorang penulis Mesir yang karyanya banyak diterjemahkan ke dalam
Bahasa Indonesia di era tahun 1970-an, salah satunya adalah “Sejarah
Hidup Muhammad”. Dalam buku ini, ternyata salah satu Maraji’
(referensi) Muhammad Husain Haekal adalah kitab “Da’irat’l-Ma’arif
al-Qarn’l-’Isyrin” (Ensiklopedi Abad ke-20 ; 10 Jilid, dicetak oleh
Maktabah al-‘Ilmiah al-Jadidah, Beirut 1918).
Dalam riwayat hidupnya, diketahui bahwa Muhammad Farid Wajdi adalah
seorang wartawan, pengarang, ahli fiqih (fuqaha) dan pembaharu
pemikiran Islam. Ia tumbuh dan besar di kota kelahirannya, Iskandariyah
(Mesir). Muhammad Farid Wajdi sejak remajanya sudah dikenal sebagai
remaja muslim yang gemar membaca berbagai buku apa saja, sehingga beliau
memiliki pengetahuan yang luas tentang Islam. Beliau juga mendalami
Sosiologi, Kebudayaan dan Filsafat. Beliau juga memimpin majelis
pengajian sendiri yang banyak dihadiri para mahasiswa yang berpemikiran
modernis, salah satu anggota pengajiannya yang sangat mengagumi tersebut
adalah Hasan al-Banna (1906-1949), seorang tokoh pembaharu Mesir dan
pendiri Ikhwanul Muslimin.
Ternyata di Indonesia, Presiden Soekarno juga
merupakan pengagum Muhammad Farid Wajdi. Soekarno seringkali mengutip
pandangan penulis Mesir itu dalam tulisan dan pidatonya. Soekarno
mengingatkan umat Islam Indonesia bahwa pemikiran Islam akan berkembang
bila ada kebebasan semangat, akal dan pengetahuan. Karena itu ketiga
kebebasan ini harus dikembangkan dan membuang pemikiran tradisional.
Karya – karya Muhammad Farid Wajdi yang terpenting antara lain adalah
a-Falsafah al-Haqqah fi Bada’I al-Akwan (Filsafat yang benar tentang
Keindahan Alam), al-Madaniyah wal al-Islam (Peradaban Modern dan Islam),
dan yang monumental adalah kitab “Da’irat’l-Ma’arif al-Qarn’l-’Isyrin”,
sebuah karya Ensiklopedi sebanyak 10 jilid yang menurut pengakuan
beliau ditulisnya sendiri tanpa bantuan orang lain.
Saya tidak dalam kerangka ingin menisbatkan nama
saya dengan mereka – mereka yang terkenal dan dikenal tersebut,
terkhusus kepada Syekh Muhammad Farid Wajdi, ensiklopedis
“Da’irat’l-Ma’arif al-Qarn’l-’Isyrin”. Saya adalah saya dan mereka
adalah mereka. Yang saya herankan dan baru saya sadari adalah bahwa
ternyata ayah saya (alm) terlalu tinggi harapan sosialnya kepada
anaknya, padahal dalam kenyataannya, saya lebih banyak menjadi
“pembangkang” semasa hidupnya. Satu hal pasti, saya hanya bercita – cita
menjadi orang yang dikenal sebagai orang yang baik – baik, paling tidak
dalam pemikiran dan tulisan, sekalipun itu sangat sulit dalam kenyataan
perbuatan dan tindakan, tapi mungkin disitulah “Faridnya”, “Uniknya”
seorang Farid.
* * *
Ternyata Farid itu bukan nama sembarang nama. Ia
sebuah nama yang “unik” (Arti kata Farid dalam Bahasa Arab adalah
“unik”) dan tak tanggung – tanggung, sebutan “Farid” ini tidak hanya
dikenal sebagai penulis dan ulama besar di Iskandariyah (Mesir), penyair
terkenal di Iran atau seorang sufi besar di India, tetapi sebutan yang
(juga) menjadi bahan perbincangan para penikmat rokok (cigarettes) di
Israel (Yerussalem) dan Palestina.
Sumber gambar : http://www.cigarettespedia.com/index.php/Farid_KS-20-H_-_Palestine_(Israel)
Rokok
Nama saya cukup terkenal dimana – mana, semoga kepopuleran nama Farid itu menjadi berkah tersendiri bagi saya, tidak sebagai “sesuatu yang dihisap dan dibuang asapnya” tapi sebagai ”orang yang senantiasa mencerahkan dan sumber inspirasi bagi orang lain”, hari ini dan esok hari.